Kamis, 09 Desember 2010

Ia Selalu Ada Untuk Kita

Setiap hari adalah hari yang luar biasa, bukan hanya setiap hari, bahkan setiap detik merupakan detik-detik yang luar biasa. Dengan keluar biasaan tersebut, sudah selayaknya diri kita mampu memanfaatkan setiap putaran waktu yang diamanahkan kepada kita.

Kali ini, teras depan rumah yang diramaikan oleh bunga-bunga mawar merah, diiringi desiran angin serta dipadukan dengan kesunyian sepertiga malam seolah menjadi sebuah saksi bersejarah dalam hidupku. Sebuah saksi tergoresnya tinta kehidupan. Sebuah saksi yang menjadi tempat perenungan bagi seorang hamba yang lemah, seorang hamba yang selalu mengharap pertolongan Sang Pemberi Pertolongan dalam setiap derap langkahnya.

Dikeheningan ini, ingatan kembali berputar pada sebuah adegan kehidupan yang di alami. Kejadian-kejadian yang selalu menjadi sumber motivasi untuk selalu lebih mendekatkan diri kepada Allah. Subhanallah…..itulah sebuah kata yang pertama kali ku tulis untuk menceritakan kejadian tersebut. Kucoba mengurai cerita, memutar kembali ingatan dimana ketika usiaku akan menginjak usia yang ke 20 tahun. Maret.. bulan yang menjadi awal dimana saya diberi kesempatan oleh Allah untuk berpetualang di dunia ini. Tepatnya dibulan Maret 2009. Ada sebuah momen yang semakin meningkatkan keyakinan akan pertolongan Allah.

Pada bulan Maret 2009 Allah menyampaikan pesan kasih sayang-Nya melalui kejadian-kejadian luar biasa yang bisa menyadarkan kelalaian serta membangunkan diri ini dari cengkraman kemalasan. Dan tidak luput juga kejadian yang begitu dahsyat yang bisa membangkitkan semangat untuk terus berjuang dalam barisan da'wah ini. Sebagai bukti syukur kepada Allah.

Awalnya pada tanggal 9 Maret 2009. Sebuah hari dimana akan kembali menjadi sebuah permulaan yang menyenangkan karena merupakan hari pertama masuk kuliah setelah liburan panjang yang dilalui. Sebuah hari dimana akan kembali bercengkrama dengan sahabat-sahabat yang selalu menjadi sumber inspirasi.

Seperti biasa, kegiatan belajar belum dimulai. Acara pada hari itu adalah “Dauroh Ta’rifiyyah” (Dauroh Perkenalan) bagi para mahasiswa baru. Karena saat itu aku menjadi salah satu anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), aku dan sahabat di BEM lainnya berkesempatan menjadi panitia untuk kegiatan tersebut.

Dalam acara tersebut ada bagian dari sesi acara yang sangat dinanti terutama oleh diriku pribadi. Dimana ada kunjungan alumni lulusan Al-Azhar Mesir yang dulunya merupakan mahasiswa di kampusku tercinta (Ma’had Al-Imarat) ini. Beliaupun berbagi tentang perjuangannya dalam menuntut ilmu di Mesir.

Beliau menceritakan sebuah perjuangan luar biasa seorang Yahya Al Andalusia dalam menuntut ilmu. Sebuah perjalanan dari Andalusia menuju Madinah untuk belajar kepada Imam Malik yang waktu itu sangat tersohor. Dengan kegigihannya dalam menuntut ilmu, setiap hari ia selalu mengikuti kajian dari Imam Malik.

Hingga pada suatu hari dimana dia sedang menghadiri kajian dari Imam Malik.

“Al-fill..al-fill..al-fill….”. teriakan orang-orang diluar masjid.

Semua orang yang mengikuti kajian itu langsung berhamburan lari keluar untuk melihat Al-Fill (gajah) dimana merupakan hewan yang langka di Madinah. Semuanya berhamburan keluar kecuali Imam Malik dan Yahya Al-Andalusia yang masih tetap pada posisinya.

“Kenapa kamu tidak keluar untuk melihat gajah?” tanya Imam Malik bertanya kepada Yahya Al-Andalusia.

“Saya datang dari Andalusia ke Madinah untuk menuntut ilmu bukan untuk melihat gajah” jawab Yahya dengan tegas.

Potongan kisah yang memperlihatkan perjuangan seorang anak jaman dalam pencarian ilmu. Jarak tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk menuntut ilmu. Seberkas cahaya yang telah dilukiskan dilangit luas guna dipahami oleh para pencari ilmu di generasi selanjutnya.

Setelah mendengar cerita itu, semangatku untuk menuntut ilmu ke Timur Tengah semakin memuncak. Uthlubu ilma minal mahdi ilal lahdi.. Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.

………………………………..

Beberapa hari setelahnya, tepatnya pada tgl 12Maret 2009 menjadi hari yang cukup berat bagiku. Pada hari itu rasanya sangat malas sekali untuk berangkat kuliah. Tubuh lemas terkulai tanpa tenaga. Mungkin raga ini masih meminta haknya dikarenakan semalaman tidak tidur mengerjakan amanah dari organisasi. Tapi aku teringat dengan cerita perjuangan Yahya dalam menuntut ilmu. Aku bangun dari tempat tidur, seolah ada energi besar yang menarik untuk terbangun.

Karena didorong motivasi itu, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat kuliah. Melihat keadaanku yang kurang fit, mamah pun memberi saran untuk tidak masuk kuliah dan beristirahat di rumah. Tapi kuputuskan untuk tetap berangkat.

“ Hati-hati dijalan, terus ingat Allah yah…” pesan mamah disertai senyuman kasih sayangnya

Singkat cerita.... ketika baru saja turun dari angkot tepatnya di samping lapangan yang tidak terlalu jauh dari kampusku, ada seseorang yang menyapa dan mengajak untuk berbincang-bincang. Awalnya dia menanyakan sebuah alamat jalan. Tapi lama kelamaan dia menodongkan sebuah pisau belati ke bagian perutku. Ia meminta uang dan barang yang kubawa saat itu.

Dengan refleks, aku menangkisnya. Ketika ku berbalik akan memukulnya… ternyata tanganku sudah dipegang dari belakang. Tanganku sudah dipegang oleh teman-temannya yang lain. Dengan cepat mereka mengelilingiku. Jumlahnya sekitar 6 orang yang mengelilingi. Akhirnya oleh ke 6 orang itu aku dibawa ke dalam lapangan yang sangat sepi saat itu.

Disana semua barang milikku digeledah serta mereka mengambilnya dengan paksa. Yang mereka ambil itu awalnya handphone dan dompet. Saat itu semua uang yang ada dalam dompet saya sekitar 400 ribu rupiah. Uang jajan yang ditabung selama beberapa bulan terakhir untuk membeli buku pelajaran saat itu.

Sepi…. sunyi… senyap…. Tidak ada seorang pun yang lewat untuk membantu. Terdiam dan terpaku dalam kekhawatiran. Terdiam dalam kesepian ini. Terdiam dalam kesendirian ini. Termakan oleh kecemasan yang diri ini hadirkan. Tidak ada tempat mengadu selain kepada Sang Penguasa yang memiliki diri ini. Hanya untaian doa pengharapan yang hadir disetiap detiknya.

Sekitar 30 menit telah berlalu dan aku masih di “tahan” oleh mereka. Selama itu pula mereka menceritakan mengenai kejahatan yang mereka lakukan pada hari itu. Mulai dari merampas tas seorang ibu, merampas kalung anak smp, sampai memukuli seorang pedagang yang pagi itu tidak mau memberi mereka uang.

Di saat itu hanya doa lah yang bisa kupanjatkan. Meminta pertolongan kepada Allah yang tidak pernah lengah mengurusi hamba-Nya.

“Ya Allah…. Tunjukkanlah kekuasaan-Mu, aku yakin pertolongan-Mu itu nyata bagi orang-orang yang percaya…” Sebuah doa terpanjat dalam hatiku.

Akhirnya… Allah mendengar dan langsung menunjukkan kekuasaan-Nya.

“Ribuan langkah kau tapaki…pelosok negeri kau sambangi…tanpa kenal lelah jemu.. sampaikan firman Tuhanmu..” nada sms yang terdengar dari handphoneku yang dipegang salah satu dari mereka.

Dengan cepat ia membaca isi sms itu. Ia terpaku… Sekejap, raut mukanya berubah. Bagai sebuah bara api yang membeku. Ia berpikir sejenak….. Lalu ia suruh salah satu temannya yang badannya paling besar untuk membaca sms itu. Hasilnya sama….. Orang berbadan besar itu hanya terdiam sejuta bahasa. Tak ada gerakan yang ia lakukan. Hanya sorotan matanya mengarah pada diri ini. Sebuah sorotan mata yang kosong dengan sejuta arti.

“Apa yang terjadi ? emangnya apa isi sms itu ?” hati ini bertanya-tanya. Tak bisa kutebak kenapa raut muka mereka tiba-tiba berubah sesaat setelah membaca sms itu….

Tiba-tiba orang berbadan besar itu mengembalikan handphoneku dan menyuruh salah seorang temannya untuk mengambil setengah dari uang yang ada di dompetku. Setelah mereka mengambil 200 ribu dari dompet, dia menyuruh untuk mengembalikan dompet itu. Semua temannya semakin bingung, saling bertatapan, saling berusaha mencoba menjawab apa maksud dari semua itu. Dengan keraguan dompet itupun dikembalikannya kepadaku. Sampai….

“Kenapa dikembalikan lagi ??” Suara yang keluar dari salah satu mulut mereka.

“Takut kualat…dia ustadz…” Jawaban singkat dari orang yang berbadan besar itu.

Mendengar percakapan mereka, diri ini semakin bingung apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan…… Setelah mereka mengembalikan handphone dan dompetku, mereka langsung lari meninggalkanku sendiri. Sendiri dalam kesepian, sendiri dalam kebingunan.

Kurapihkan kembali pakaian, bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke kampus. Ketika akan mulai melangkah menuju kampus, aku teringat dengan sms yang membuat muka mereka berubah. Kulihat pesan yang masuk di handphone. Ada sebuah sms dari no 08565960xxxx

“Aslm,ustadz.. nanti sore bisa mengisi materi ?.........”

“Subahanallah ….” Sebuah kata yang keluar pada saat itu. Aku yakin, inilah pertolongan Allah. Sebuah lapang hijau yang sepi itu pun menjadi saksi nyata sebuah sujud syukur akan pertolongan yang Allah janjikan. Lagi-lagi Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya padaku.